. Lembaga Sertifikasi Profesi: 12/17/14

Rabu, 17 Desember 2014

Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

VIVAnews - Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diberlakukan Desember 2015 demi mewujudkan hubungan bisnis, investasi dan perdagangan yang lebih bebas antar-sepuluh negara di Asia Tenggara. Untuk menghadapi itu, Indonesia memiliki tiga langkah utama yang akan dilakukan.

Tiga langkah persiapan tersebut adalah percepatan pembangunan sektor infrastruktur, peningkatan kerja sama investasi, dan perdagangan intra negara ASEAN.

"Menurut padangan Presiden Joko Widodo saat menghadiri KTT ke-24 ASEAN kemarin, ranah percepatan pembangunan infrastruktur dan konektivitas antar negara di negara ASEAN harus segera dilakukan, sesuai koridor Masterplan on ASEAN Connectivity (MPAC)," papar Dirjen Kerja sama ASEAN Kementerian Luar Negeri, I Gusti Agung Wesaka Puja, di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa 16 Desember 2014.

Dia menjelaskan, langkah kedua, yakni melakukan kerja sama investasi, industri, dan manufaktur yang lebih erat di antara negara-negara anggota ASEAN, sehingga dapat memperkuat perekonomian.

Ketiga, meningkatkan perdagangan intra negara ASEAN. Hal tersebut, karena saat ini perdagangan intra anggota ASEAN baru mencapai 24,2 persen.

"Indonesia berharap, dalam jangka waktu lima tahun ke depan, nilai perdagangan intra ASEAN bisa mencapai 35 samapai 40 persen," tambahnya.

Manfaatkan momentum


Lebih lanjut, dia mengatakan, Indonesia bisa memanfaatkan momentum MEA 2015 untuk meningkatkan perekonomian.

"Pangsa pasar yang ada di Indonesia adalah 250 juta orang, jika MEA diberlakukan, maka pangsa pasar ASEAN sejumlah 625 juta orang bisa disasar oleh Indonesia. Jadi, Indonesia memiliki kesempatan lebih luas untuk memasuki pasar yang lebih luas," jelasnya.

Dia menjelaskan, bahwa Indonesia sekarang memiliki 55 juta usaha kecil menengah (UKM). Menurutnya, tinggal bagaimana para pelaku usaha untuk maju dalam mengelola dan mengambil peran dalam MEA tersebut, atau malah tergerus dengan negara lain.

"Awarness atau kesadaran masyarakat terhadap MEA tidak terlalu banyak. Hal ini adalah tantangan bagi kita untuk membuat masyarakat sadar dan mau bersaing dengan negara-negara ASEAN, sehingga Indonesia siap menghadapi MEA 31 Desember 2015 nanti," ungkapnya.

Dia menambahkan, Indonesia diharapkan bisa menjadi bagian penting dari rantai produksi regional maupun global. (ren)

Tenaga kerja Indonesia lemah di 8 sektor pasar tunggal ASEAN

Merdeka.com - Pada pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun depan, ada 12 sektor usaha yang diliberalisasi. Tujuh sektor perdagangan berkaitan dengan ekspor impor, ditambah lima sektor jasa yang terbuka untuk perpindahan tenaga kerja. Di masing-masing bidang itu, Indonesia masih memiliki kekurangan.

Lima sektor jasa yang terbuka untuk lapangan pekerjaan yakni transportasi udara, e-ASEAN, pelayanan kesehatan, turisme, dan jasa logistik. Kemudian, tujuh sektor perdagangan dan industri adalah produk berbasis pertanian, elektronik, perikanan, karet, tekstil, otomotif dan kayu.

Kelemahan signifikan yang masuk pantauan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) adalah sertifikasi dan peningkatan kualitas tenaga kerja. Sebab terbuka peluang kebutuhan SDM di bidang-bidang itu, akan diisi warga negara ASEAN lainnya.

"Yang jelas kita local skill-nya kurang. Artinya kita harus cepat mengisi," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana saat membuka acara 'Tantangan Kependudukan, ketenagakerjaan dan SDM Indonesia menghadapi MEA 2015' di kantornya, Jakarta, Rabu (26/3).

Menurut dia, dari 12 sektor itu terdapat delapan bidang yang telah mencapai MRA (mutual recognition arrangement). Sehingga,sektor-sektor tersebut akan disertifikasi kompetensi tenaga kerjanya untuk saling diakui di ASEAN.

Delapan bidang kerja tersebut yakni, insinyur, perawat, arsitek, pariwisata, praktisi medis, dokter gigi dan akuntan. "Sektor 12, bidang keahlian ada 8 tapi harus memenuhi standar kompetensi dan diakui, dan sebaliknya. Jadi inilah yang potensial kerja di ASEAN," kata Armida.

Sedangkan dari sisi perekonomian, Indonesia tetap akan punya pengaruh bagi kawasan Asia Tenggara. Produk Domestik Bruto ditargetkan tetap konsisten di angka 5,8-6 persen. Potensi pasar di Tanah Air besar, didukung dengan PDB per kapita di atas 6 persen setelah 2014. Bappenas memprediksi akhir 2019, pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai USD 7.000 per tahun. "Kita masih negara berpenghasilan menengah," kata Armida.